Bilqis telah berpulang. Namun, masih ada anak lain seperti Bilqis yang butuh uluran tangan
RSUD dr Soetomo kembali merawat bayi yang mengalami kelainan hati atau atresia bilier. Yusuf Nur Rama Dani, bayi berusia 7 bulan asal Surabaya, dirawat di Instalasi Rawat Inap (Irna) Anak sejak pekan lalu.
Kepala Divisi Hepatologi Anak Bagian Anak RSUD dr Soetomo, dr Syamsul Arif SpA(K), membenarkan pihaknya tengah merawat bayi dengan kelainan hati asal Surabaya. Syamsul menjelaskan, hingga saat ini kondisi bayi cukup stabil dan tidak terlalu mengkhawatirkan.
“Kami tetap memberi penanganan rutin meski kondisinya cukup stabil,” kata Arif, Senin (12/4) pagi.
Sejak dilahirkan di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSUD dr Soetomo pada 18 Agustus 2009, Rama tidak pernah meninggalkan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini. Tubuh anak pasangan Rudi Hartono (29) dan Kosidah (28) sudah terlihat menguning ketika dilahirkan.
“Tubuh anak saya menguning dan perutnya membuncit tidak pernah kempes,” kata Rudi.
Wajah pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini terlihat kalut. Selain kondisi anaknya, ia juga bingung memikirkan biaya yang ditanggung. Memang, Rama berobat menggunakan Jamkesmasda. Tapi Rudi juga dibebani biaya hidup seperti makan dan sebagainya selama dia dan istrinya menjaga Rama di rumah sakit.
Karena harus menunggui bayinya, Rudi diberhentikan dari pekerjaannya. Ia menganggur selama dua bulan terakhir karena tidak bisa membiarkan istrinya sendirian menjaga bayi mereka.
“Kalau mau beli obat kan banyak yang harus difotokopi. Istri saya tidak bisa melakukan karena harus menjaga anak kami,” kata Rudi.
Saking kalut dan bingungnya, Rudi tidak sanggup berpikir penanganan seperti apa yang sebaiknya dilakukan untuk anaknya. Jika memang anaknya harus menjalani transplantasi ginjal, warga Banyu Urip Wetan Gang IV no 101 mengaku tidak punya biaya. Apalagi di televisi kerap disebutkan biaya transplantasi hati mencapai miliaran rupiah.
Hingga saat ini, transplantasi hati menjadi satu-satunya penanganan terbaik untuk penyakit atresia bilier seperti dialami Rama. Hanya saja, biaya yang dibutuhkan untuk operasi semacam ini sangat besar. Untuk penanganan sementara, dokter biasanya melakukan operasi pembuatan saluran empedu.
Hanya saja, operasi semacam ini tidak mampu memperpanjang hidup penderita atresia bilier. Karena empedu tidak bisa keluar ke usus, sehingga hati lama-lama mengeras dan berhenti bekerja.
Syamsul mengatakan, pihaknya memang belum mengambil tindakan khusus untuk Rama. Pasalnya, tim dokter RSUD dr Soetomo tengah fokus pada persiapan operasi transplantasi hati M Ramdhan, pasien atresia bilier asal Trenggalek yang rencananya akan dioperasi pada bulan ini.
Operasi transplantasi hati rencananya juga akan dilakukan pada Bilqis Anandya Passa di RSUP dr Kariyadi Semarang. Namun bayi asal Jakarta ini meninggal dunia akhir pekan lalu. Nasib serupa juga dialami Eka Putra Prasetya. Anak pasangan Sholihin dan Sunarti juga menderita atresia bilier dan meninggal dunia 1 April lalu.
Renny Mardiningsih
Sejak dilahirkan di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSUD dr Soetomo pada 18 Agustus 2009, Rama tidak pernah meninggalkan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini. Tubuh anak pasangan Rudi Hartono (29) dan Kosidah (28) sudah terlihat menguning ketika dilahirkan.
“Tubuh anak saya menguning dan perutnya membuncit tidak pernah kempes,” kata Rudi.
Wajah pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini terlihat kalut. Selain kondisi anaknya, ia juga bingung memikirkan biaya yang ditanggung. Memang, Rama berobat menggunakan Jamkesmasda. Tapi Rudi juga dibebani biaya hidup seperti makan dan sebagainya selama dia dan istrinya menjaga Rama di rumah sakit.
Karena harus menunggui bayinya, Rudi diberhentikan dari pekerjaannya. Ia menganggur selama dua bulan terakhir karena tidak bisa membiarkan istrinya sendirian menjaga bayi mereka.
“Kalau mau beli obat kan banyak yang harus difotokopi. Istri saya tidak bisa melakukan karena harus menjaga anak kami,” kata Rudi.
Saking kalut dan bingungnya, Rudi tidak sanggup berpikir penanganan seperti apa yang sebaiknya dilakukan untuk anaknya. Jika memang anaknya harus menjalani transplantasi ginjal, warga Banyu Urip Wetan Gang IV no 101 mengaku tidak punya biaya. Apalagi di televisi kerap disebutkan biaya transplantasi hati mencapai miliaran rupiah.
Hingga saat ini, transplantasi hati menjadi satu-satunya penanganan terbaik untuk penyakit atresia bilier seperti dialami Rama. Hanya saja, biaya yang dibutuhkan untuk operasi semacam ini sangat besar. Untuk penanganan sementara, dokter biasanya melakukan operasi pembuatan saluran empedu.
Hanya saja, operasi semacam ini tidak mampu memperpanjang hidup penderita atresia bilier. Karena empedu tidak bisa keluar ke usus, sehingga hati lama-lama mengeras dan berhenti bekerja.
Syamsul mengatakan, pihaknya memang belum mengambil tindakan khusus untuk Rama. Pasalnya, tim dokter RSUD dr Soetomo tengah fokus pada persiapan operasi transplantasi hati M Ramdhan, pasien atresia bilier asal Trenggalek yang rencananya akan dioperasi pada bulan ini.
Operasi transplantasi hati rencananya juga akan dilakukan pada Bilqis Anandya Passa di RSUP dr Kariyadi Semarang. Namun bayi asal Jakarta ini meninggal dunia akhir pekan lalu. Nasib serupa juga dialami Eka Putra Prasetya. Anak pasangan Sholihin dan Sunarti juga menderita atresia bilier dan meninggal dunia 1 April lalu.
Renny Mardiningsih
Get this widget [ Here ]







Comments :
0 komentar to “RSUD Dr Soetomo Rawat Pasien Mirip Bilqis”
Posting Komentar